Senin, 21 Mei 2012
http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2606
Puji Santosa
Pujangga
besar Yunani, Horatius dalam bukunya Ars Poetica (dalam Teeuw,
1984:183) menyatakan bahwa tujuan penyair menulis sajak adalah memberi
nikmat dan berguna (dulce et utile). Sesuatu yang memberi nikmat
atau kenikmatan berarti sesuatu itu dapat memberi hiburan,
menyenangkan, menenteramkan, dan menyejukan hati yang susah. Sesuatu
yang berguna adalah sesuatu yang dapat memberi manfaat, kegunaan, dan
kehikmahan. Atas dasar pengertian bahwa sastra memberi nikmat dan
berguna, Effendi (1982:232—238) menyebut sastra sebagai “kenikmatan dan
kehikmahan”, yaitu kenikmatan dalam arti sastra memberi hiburan yang
menyenangkan dan kehikmahan dalam arti sastra memberi sesuatu atau
nilai yang berguna bagi kehidupan.
Budi Darma (2004:4—7) secara tegas
membedakan dua genre sastra, yaitu sastra serius dan sastra hiburan.
Sastra serius adalah genre sastra untuk ditafsirkan atau sastra yang
cenderung merangsang pembaca untuk menafsirkan atau menginterpretasikan
makna karya sastra itu. Sastra hiburan adalah karya sastra untuk
pelarian (escape) dari kebosanan, dari rutinitas sehari-hari, atau dari
masalah yang sukar diselesaikan. Sastra hiburan, menurut Budi Darma,
sifatnya menghibur sehingga banyak digemari pembaca. Karena banyak
digemari, sastra hiburan juga dinamakan sastra pop, sastra populer.
Budi Darma (2004:6) menjelaskan lebih
lanjut bahwa salah satu ciri sastra hiburan adalah tokohnya tampan,
kaya, dicintai, dikagumi, dan sanggup mengatasi segala macam masalah
dengan mudah. Pembaca dipancing untuk melakukan identifikasi diri
seolah dirinya adalah tokoh itu sendiri. Dengan memasuki sastra
hiburan, pembaca merasa bahwa dirinya seolah serba hebat. Oleh karena
itu, apa yang dipancing oleh sastra hiburan tidak lain adalah impian
yang tidak mungkin dicapai. Pembaca dibuai bukan oleh masalah hakiki
kehidupan, melainkan oleh ilusi.
Berdasarkan pendapatnya itu, Budi Darma
dengan tegas menyatakan bahwa sampai akhir tahun 1960-an hingga awal
tahun 1970-an, di berbagai negara, termasuk Indonesia, objek studi
sastra terbatas pada sastra serius. Studi sastra hiburan dianggap tidak
sah karena tidak menawarkan apa-apa selain pelarian dari kebosanan
belaka. Sastra hiburan hanya digunakan untuk iseng, bukan untuk studi
yang serius. Pendapat Budi Darma itu tampaknya mengacu pendapat Damono
(1999:144) tentang telaah sastra populer dan pendapat Sumardjo
(1979:18) tentang ciri novel pop dan novel serius.
Pendapat Budi Darma tentang sastra
hiburan tersebut tampaknya mendapat sanggahan dari muridnya sendiri,
Saryono (2009: 202—219), yang menyatakan bahwa sastra tidak hanya
menghidangkan pengalaman, pengetahuan, dan kesadaran, tetapi juga
hiburan karena sastra jenis apa pun (puisi, fiksi, dan drama) yang
digubah secara jujur dan sungguh-sungguh selalu memancarkan sinyal
permainan yang menyenangkan. Saryono juga memperkuat pendapatnya dengan
pernyataan Huizinga (1990:167) bahwa puisi (sastra) merupakan suatu
fungsi permainan. Sastra berlangsung dalam suatu ruang permainan
mental, dalam suatu dunia yang diciptakan oleh jiwa bagi dirinya
sendiri, segala sesuatu yang menampilkan wajah berbeda dengan wajah
dalam “kehidupan biasa”, dan dihubungkan satu sama lain oleh ikatan
yang lain daripada ikatan logika. Setiap puisi sekaligus ritus, hiburan
dalam pesta, permainan pergaulan, kemahiran seni, ujian atau teka-teki
yang harus dipecahkan, ajaran kebijaksanaan, bujukan, penyihiran,
ramalan, nubuat, dan pertandingan. Jadi, setiap sastra, apa pun
jenisnya, termasuk sastra serius, senantiasa memberikan hiburan dan
kegiatan bagi yang menggelutinya serta memberikan hiburan bagi jiwa
kita, batin kita.
Hiburan yang diberikan oleh sastra
berbeda dengan hiburan massa yang modelnya dikemas dalam binis
pertunjukan dan teknologi canggih, seperti permainan sulap, sihir,
musik, dan akrobat. Sastra menyajikan hiburan yang berisi permainan
batin mengasyikan. Karya sastra juga dapat dipentaskan sebagai
pertunjukan yang menghibur, seperti musikalisasi puisi, dramatisasi
puisi, pembacaan cerpen, atau pementasan fragmen novel atau cerita
rakyat, bahkan karya sastra dapat dialihmediakan sebagai sinetron atau
film. Meskipun demikian, janganlah karya sastra yang dipadukan dengan
seni yang lain, seperti penambahan musik, tata lampu, tata busana, tata
panggung, dan tata pentas, mengganggu penyampaian makna karya sastra
yang menghibur dan berguna bagi kelangsungan kehidupan. Sastra yang
memberikan hiburan mentalitas yang bermain-main dalam batin atau jiwa
kita harus tetap hidup sekalipun dipadukan dengan berbagai seni lain.
Sastra sesungguhnya menyajikan berbagai
macam hiburan. Jenis atau macam hiburan yang ada dalam karya sastra
sesungguhnya juga sangat bergantung pada kepekaan dan ketajaman intuisi
pembaca. Pembaca yang peka dan tajam intuisinya akan dapat menangkap
hal-hal yang bersifat menghibur yang terdapat dalam karya sastra.
Ketika seseorang tengah membaca dan memahami karya sastra, ia akan
menemukan gejala yang bersifat menghibur. Misalnya, sebagian besar
masyarakat tradisional di pedesaan menganggap bahwa sastra (cerita
lisan, dongeng, legenda, mite, epos, fabel, pelipur lara, pantun
jenaka. dan teater rakyat) berfungsi sebagai hiburan. Hal itu berarti
sastra dapat menyenangkan atau menyejukan hati mereka yang susah,
resah, gelisah, dan kecewa. Dengan cara mendengarkan dan menonton
pertunjukan pentas sastra lisan, mereka akan mendapatkan hiburan, yaitu
hati merasa senang, sehingga untuk sementara waktu mereka dapat
menghilangkan rasa penat, letih, lelah, sedih, dan kesal sehabis
bekerja di kebun atau sehabis pulang dari melaut. Hal itu sesuai dengan
keadaan masyarakat tradisional pedesaan yang masih jauh dari peradaban
dunia masa kini yang modern.
Dalam legenda dan pentas sastra lisan Marpalol,
milik Suku Kafoa, di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, misalnya, dalam
membangun rumah adat disajikan tari lego-lego, pencak silat kampung,
atau atraksi seni sastra lain. Legenda Marpalol dipertunjukkan
sebagai usaha masyarakat pedesaan mengibur mereka yang sedang membangun
rumah adat. Selain itu, pentas pertunjukan Marpalol juga
disajikan untuk menyambut kehadiran tamu kehormatan, acara hajatan
pengantin, dan pesta adat yang lain. Pada saat pertunjukkan, masyarakat
Kafoa hadir bersama-sama dalam keadaan suka cita menyatu dalam
kebersamaan menikmati pertunjukan seni sastra lisan.
Ada bermacam-macam genre sastra yang
memberi hiburan. Sastra yang menyajikan hiburan dapat dibedakan atas
beberapa ragam berdasarkan isi dan bentuk penyampaiannya. Dari segi
isi, karya sastra yang menyajikan hiburan dibedakan sebagai berikut.
- Karya sastra yang berisi kisah tentang kebodohan atau kedunguan manusia. Karya sastra seperti itu akan tercipta tokoh yang amat bodoh, seperti Pak Kaduk dan Pak Pandir, dalam sastra lama Melayu. Dalam karya sastra semacam itu orang bodoh atau dungu digunakan sebagai objek atau bahan olok-olokan, tertawaan, parodi, sindiran, ironi, dan sarkasme.
- Karya sastra yang berisi kisah tentang kemujuran atau keberuntungan seorang manusia. Karya sastra seperti itu akan tercipta tokoh yang sangat mujur, seperti Pak Belalang (versi Melayu), si Kabayan (versi Sunda), atau Pak Banjir (versi Jawa). Dalam karya sastra itu orang yang beruntung atau selalu mujur menjadi objek pelajaran tentang nasib baik seseorang, yaitu dengan usaha yang sedikit atau tanpa bekerja keras, seseorang mendapatkan penghasilan yang cukup atau lumayan, sehingga karya sastra sebagai parabel.
- Karya sastra yang berisi kisah tentang kemalangan seseorang. Karya sastra seperti itu akan tercipta tokoh yang malang atau sial, seperti Lebai Malang. Dalam karya sastra seperti itu dapat kita ambil hikmahnya, yaitu agar seseorang mantap menentukan pilihan, tidak tamak atau serakah, dan mau menerima apa yang menjadi bagiannya walaupun hanya sedikit.
- Karya sastra yang berisi kisah tentang seorang yang licik, penuh tipu muslihat. Karya sastra seperti itu tokohnya amat licin seperti belut, seperti tokoh si Luncai atau si Kabayan. Karya sastra itu dapat dijadikan pelajaran bagi seseorang untuk menggunakan akal pikirannya atau kecerdasan otaknya. Walaupun demikian, dalam menyampaikan karya sastra seperti itu, pertimbangan moral perlu diperhatikan agar pembaca tidak terjebak pada hal yang bersifat kelicikan dan tipu muslihat saja.
- Karya sastra yang berisi kisah tentang seseorang yang cerdik, penuh berakal, dan tahu ilmu siasat. Karya sastra seperti itu akan memunculkan tokoh legendaris dari Arab-Persia, seperti Abu Nawas, Ali Baba, atau si Sinbad. Dalam karya sastra seperti itu hendaknya disadari bahwa kemampuan berpikir, bersiasat, atau berakal cerdik diperlukan ketajaman analisis, kecermatan, dan kelemahan lawan bicara sehingga lawan bicara tidak dapat menyanggah.
Dari segi bentuk, karya sastra yang menyajikan hiburan dibedakan sebagai berikut.
- Sastra yang disampaikan dengan kata-kata yang mempunyai arti ganda atau bersifat permainan kata atau yang disebut dengan plesetan kata. Dalam sastra seperti itu isi cerita tidak dipentingkan, tetapi alurnya harus berurutan, dan yang terpenting mampu mempermainkan kata-kata sehingga cerita itu menimbulkan kelucuan yang menghibur pembaca.
- Sastra yang disampaikan dengan cara penuh kejutan yang mengungkapkan sejumlah masalah yang tidak terduga sebelumnya. Dalam sastra seperti itu penulis mampu mengecoh pembaca atau pendengar sehingga pembaca merasa kecele atau dibohongi. Dengan demikian, pembaca akan terhibur.
- Sastra yang disampaikan dengan cara mengungkapkan hal-hal yang bersifat tabu atau menggunakan kata-kata yang tidak senonoh. Agar tidak tampak vulgar dan dianggap pornografi, sastra seperti itu dikemas dengan kiasan, perlambang, atau idiom yang mudah dikenal pembaca.
- Sastra yang disampaikan dengan cara tidak wajar, aneh, atau absurd sehingga pembaca ikut tertawa dibuatnya. Biasanya cerita seperti itu disampaikan dengan cara yang berlawanan dengan kenyataan, tidak masuk akal atau tidak logis, sehingga pembaca merasakan sesuatu yang aneh dapat menghiburnya.
- Sastra yang disampaikan dengan cara menghadirkan tokoh yang berkarakter sebagai manusia yang nakal, usil, suka mengganggu orang lain, atau penuh pura-pura sehingga pembaca merasa terusik, jengkel, dan tertawa. Jenis sastra seperti itu memperlihatkan kepiawaian penulis dalam mengemas cerita sehingga menarik perhatian pembaca.
Sastra sebagai hiburan adalah karya
sastra yang menyajikan sebuah karangan atau tulisan lengkap, baik
puisi, cerita rekaan, maupun drama, yang berisi sesuatu yang dapat
menghibur atau menyenangkan hati pembaca, dan memberikan permainan
mental dalam batin pembaca. Oleh karena itu, pembaca diharapkan
memperoleh nilai kenikmatan yang memberi rasa menyenangkan dari karya
sastra yang dibacanya.
Daftar Pustaka
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar