Minggu, 27 Mei 2012
Hembusan udara sejuk
Mengundang langkah kaki ku 'tuk keluar
Ceklek ceklek, ku buka kunci kamar
Tapi hembusan udara sejuk itu menjelma
Udara yang dingin menggigil
Ku silangkan tangan ke bahu
Rasanya ingin kembali memejamkan mata
DrrrRrrrr!!!!
Daun pintu ku tutup kembali
Senin, 21 Mei 2012
http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/karya-sastra-jawa-kuno.html
Sastra jawa di awal timbulnya tampak sekali dipengaruhi oleh
kesusastraan Hindu di India, sebab selama lebih sepuluh abad, sekurang
kurangnya dari abad 5 sampai dengan abad 15, “Indonesia termasuk dalam
Indianzed States”, yakni negara negara yang terpengaruh peradaban dan
Agama dari India.
Pengaruh India tersebut tampak pada hasil
kesusastraan jawa yang meliputi karya abad 8 sampai dengan abad
15.,atau yang meliputi masa semenjak pemerintahan Raja Sindok tahun ±
930, sampai jatuhnya Kediri ( 1222 ) dan jaman Singosari – Majapahit (
abad 13 – akhir abad 15 ).
Ciri ciri yang nampak bahwa adanya pengaruh Sastra India tersebut , antara lain :
1. Karya Sastra Jawa Kuno ditulis dengan ,menggunakan bahasa Sansekerta.
2. Didalam karya karya sastra jawa Kuno itu tercermin paham agama hindu dan Budha.
3.
Pola cerita dalam karya Sastra Jawa Kuno, bersumber dari cerita cerita
India ( terutama bersumber pada Ramayana dan Mahabarata. )
4. Jenis
sastra yang mula mula berkembang tampak mempunyai pola konvensi Sastra
Sansekerta, yaitu berpedoman pada metrum karya india.
Karya sastra india yang biasanya dipakai sumber dalam penulisan cerita dalam sastra Jawa Kuno adalah :
1. Mahabarta atau Astadasaparwa karangan Wyasu ( Byosa )
2. Rawamavadha karangan Bhaktikavya
3. Panca Tantular
4. Hariwangsa
5. Rangkuwangsa karangan Kalidasa dan sebagainya.
Biasanya karya karya sastra diatas digubah menjadi kakawin atau prosa.
Contoh :
1.
Mahabarata yang asal mulanya berupa sloka digubah menjadi prosa yang
pada karya aslinya terdiri dari 18 parwa, yang dapat ditemui dalam
versi Jawa Kuno hanya 9 parwa saja yaitu : Adiparwa, sobhaparwa,
Wirataparwa , Bhimaparwa , Astramawasaparwa, Mosalaparwa,
Prostanikaparwa dan Swarga Robanaparwa.
2. Ravanavadha, sebagian besar digubah menjadi Ramayana kakawin
3. Pancatantra, biasanya dipakai sebagai seumber penulisan , Tantri kamandaka, yang isinya tentang ceita / dongeng hewan.
4. Raghuwangsa , karangan pujangga Kalidosa, juga diambil sebagai sumber cerita Sumana samatika kakawin.
KARYA SASTRA JAWA KUNO GOLONGAN MUDA DIANTARANYA ADALAH :
1. Wanaparwa, dipakai sebagai sumber penulisan , Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa.
2.
Udjaguparwa, Bhismapariwa, Dranaparwa, Karna parwa dipakai sebagai
sumber penulisan Bharata Yudha gubahan mpu Sedah dan Panuluh.
3. Wirataparwa, khusus episode Abhimanyu Utari, dipakai sumber penulisan Ghatotkaca Sraya kakawin, gubahan mpu panuluh
4. Uttharakandha, sebagian juga diambil sumber penulisan Arjuna Wiwaha Kakawin , karya mpu Kanwa.
http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv42/?q=detail_artikel/2606
- Karya sastra yang berisi kisah tentang kebodohan atau kedunguan manusia. Karya sastra seperti itu akan tercipta tokoh yang amat bodoh, seperti Pak Kaduk dan Pak Pandir, dalam sastra lama Melayu. Dalam karya sastra semacam itu orang bodoh atau dungu digunakan sebagai objek atau bahan olok-olokan, tertawaan, parodi, sindiran, ironi, dan sarkasme.
- Karya sastra yang berisi kisah tentang kemujuran atau keberuntungan seorang manusia. Karya sastra seperti itu akan tercipta tokoh yang sangat mujur, seperti Pak Belalang (versi Melayu), si Kabayan (versi Sunda), atau Pak Banjir (versi Jawa). Dalam karya sastra itu orang yang beruntung atau selalu mujur menjadi objek pelajaran tentang nasib baik seseorang, yaitu dengan usaha yang sedikit atau tanpa bekerja keras, seseorang mendapatkan penghasilan yang cukup atau lumayan, sehingga karya sastra sebagai parabel.
- Karya sastra yang berisi kisah tentang kemalangan seseorang. Karya sastra seperti itu akan tercipta tokoh yang malang atau sial, seperti Lebai Malang. Dalam karya sastra seperti itu dapat kita ambil hikmahnya, yaitu agar seseorang mantap menentukan pilihan, tidak tamak atau serakah, dan mau menerima apa yang menjadi bagiannya walaupun hanya sedikit.
- Karya sastra yang berisi kisah tentang seorang yang licik, penuh tipu muslihat. Karya sastra seperti itu tokohnya amat licin seperti belut, seperti tokoh si Luncai atau si Kabayan. Karya sastra itu dapat dijadikan pelajaran bagi seseorang untuk menggunakan akal pikirannya atau kecerdasan otaknya. Walaupun demikian, dalam menyampaikan karya sastra seperti itu, pertimbangan moral perlu diperhatikan agar pembaca tidak terjebak pada hal yang bersifat kelicikan dan tipu muslihat saja.
- Karya sastra yang berisi kisah tentang seseorang yang cerdik, penuh berakal, dan tahu ilmu siasat. Karya sastra seperti itu akan memunculkan tokoh legendaris dari Arab-Persia, seperti Abu Nawas, Ali Baba, atau si Sinbad. Dalam karya sastra seperti itu hendaknya disadari bahwa kemampuan berpikir, bersiasat, atau berakal cerdik diperlukan ketajaman analisis, kecermatan, dan kelemahan lawan bicara sehingga lawan bicara tidak dapat menyanggah.
- Sastra yang disampaikan dengan kata-kata yang mempunyai arti ganda atau bersifat permainan kata atau yang disebut dengan plesetan kata. Dalam sastra seperti itu isi cerita tidak dipentingkan, tetapi alurnya harus berurutan, dan yang terpenting mampu mempermainkan kata-kata sehingga cerita itu menimbulkan kelucuan yang menghibur pembaca.
- Sastra yang disampaikan dengan cara penuh kejutan yang mengungkapkan sejumlah masalah yang tidak terduga sebelumnya. Dalam sastra seperti itu penulis mampu mengecoh pembaca atau pendengar sehingga pembaca merasa kecele atau dibohongi. Dengan demikian, pembaca akan terhibur.
- Sastra yang disampaikan dengan cara mengungkapkan hal-hal yang bersifat tabu atau menggunakan kata-kata yang tidak senonoh. Agar tidak tampak vulgar dan dianggap pornografi, sastra seperti itu dikemas dengan kiasan, perlambang, atau idiom yang mudah dikenal pembaca.
- Sastra yang disampaikan dengan cara tidak wajar, aneh, atau absurd sehingga pembaca ikut tertawa dibuatnya. Biasanya cerita seperti itu disampaikan dengan cara yang berlawanan dengan kenyataan, tidak masuk akal atau tidak logis, sehingga pembaca merasakan sesuatu yang aneh dapat menghiburnya.
- Sastra yang disampaikan dengan cara menghadirkan tokoh yang berkarakter sebagai manusia yang nakal, usil, suka mengganggu orang lain, atau penuh pura-pura sehingga pembaca merasa terusik, jengkel, dan tertawa. Jenis sastra seperti itu memperlihatkan kepiawaian penulis dalam mengemas cerita sehingga menarik perhatian pembaca.
Minggu, 20 Mei 2012
Disini ku berdiri menatap penuh nanar kearahnya...
Diam.... tak ada suara yang terdengar...
Seketika jantung ku berdegup cepat..
